Lalai untuk Belajar Islam Orang Kafir

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat & salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga & sahabatnya.
Tuntunan zaman & semakin canggihnya teknologi menuntut generasi muda utk bisa melek akan hal itu. Sehingga orang tua pun berlomba-lomba bagaimana bisa menjadikan anaknya pintar komputer & lancar bercuap-cuap ngomong English. Namun sayangnya karena porsi yang berlebih terhadap ilmu dunia sampai-sampai karena mesti anak belajar di tempat les sore hari, kegiatan belajar Al Qu Readmore….

Kisah Muslim di Ningbo, China Rumah Makan

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Alhamdulillah…. Semoga shalawat & salam selalu tercurah utk nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa salam, keluarga, shahabat & para pengikutnya hingga akhir zaman.
Tulisan singkat ini saya buat atas permintaan akhi amrullah -semoga Allah selalu menjaganya-. Tentang keadaan masyarakat muslim di negeri China, khususnya masyarakat muslim di kota Ningbo.
Selama keberadaan saya di sini sekitar 1 bulan lebih, saya telah mengunju Readmore….

Kilas Website Dakwah: ustadzkholid.com Majalah Nikah

Alhamdulillah, satu lagi weblog dakwah Ahlus Sunnah telah hadir di belantara dunia maya ini. Tidak lain & tak bukan adalah weblog milik Ustadz Kholid Syamhudi, Lc. Hafizhahullah.
Ustadz Kholid Syamhudi adalah salah satu ustadz Ahlus Sunnah yang pernah menimba ilmu di tanah para nabi, tepatnya di Universitas Islam Madinah Al Munawwaroh, Jurusan Hadits. Beliau saat ini banyak menghabiskan waktunya dlm dakwah sunnah, diantaranya dgn menjadi pengasuh Ma’had Al Ukhuwah Sukoharjo. Readmore….

Jangan Kau Cela Sahabat Nabimu Subhanahu Wa

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala & perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Rabbul ‘Alamin. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.
Agama adalah Nasihat
Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat Abu Rayyah Tamiim bin Aus Ad Daariy rodhiyallahu &#821 Readmore….

Mari Menghidupkan Sunnah Nabi Nabi Muhammad

Seorang muslim yang mengaku mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, semestinya dia selalu berusaha utk meneladani sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm kehidupannya, terlebih lagi jika dia mengaku sebagai ahlus sunnah. Karena konsekwensi utama seorang yang mengaku mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah selalu berusaha mengikuti semua petunjuk & perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,r />{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}
“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu & mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31).
Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Ayat yang mulia ini merupakan hakim (pemutus perkara) bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah, akan tetapi dia tak mengikuti jalan (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dia adalah orang yang berdusta dlm pengakuan tersebut dlm masalah ini, sampai dia mau mengikuti syariat & agama (yang dibawa oleh) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm semua ucapan, perbuatan & keadaannya”[1].
Imam al-Qadhi ‘Iyadh al-Yahshubi berkata, “Ketahuilah bahwa barangsiapa yang mencintai sesuatu, maka dia akan mengutamakannya & berusaha meneladaninya. Kalau tak demikian, maka berarti dia tak dianggap benar dlm kecintaanya & hanya mengaku-aku (tanpa bukti nyata). Maka orang yang benar dlm (pengakuan) mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah jika terlihat tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda (bukti) cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang utama adalah (dengan) meneladani beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan & perbuatannya, melaksanakan segala perintah & menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dgn adab-adab (etika) yang beliau (contohkan), dlm keadaan susah maupun senang & lapang maupun sempit”[2].
Kedudukan & Keutamaan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm Islam
Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berarti segala sesuatu yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik ucapan, perbuatan maupun penetapan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam[3], memiliki kedudukan yang sangat agung dlm Islam, karena Allah Ta’ala sendiri yang memuji semua perbuatan & tingkah laku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dlm firman-Nya,
{وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak/tingkah laku yang agung” (QS al-Qalam:4).
Ayat yang mulia ini ditafsirkan langsung oleh istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ummul mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ketika beliau ditanya tentang ahlak (tingkah laku) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau menjawab, “Sungguh akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah al-Qur’an“[4].
Ini berarti bahwa Rasulullah r adalah orang yang paling sempurna dlm memahami & mengamalkan isi al-Qur’an, menegakkan hukum-hukumnya & menghiasi diri dgn adab-adabnya[5].
Demikian pula dlm firman-Nya Ta’ala,
{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah & (balasan kebaikan pada) hari kiamat & dia banyak menyebut Allah” (QS al-Ahzaab:21).
Ayat yang mulia ini menunjukkan kemuliaan & keutamaan besar mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Ta’ala sendiri yang menamakan semua perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “teladan yang baik”, yang ini menunjukkan bahwa orang yang meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti dia telah menempuh ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) yang akan membawanya mendapatkan kemuliaan & rahmat Allah Ta’ala[6].
Ketika menafsirkan ayat ini, imam Ibnu Katsir berkata, “Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dlm meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm semua ucapan, perbuatan & keadaan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam“[7].
Kemudian firman Allah Ta’ala di akhir ayat ini mengisyaratkan satu faidah yang penting utk direnungkan, yaitu keterikatan antara meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn kesempurnaan iman kepada Allah & hari akhir, yang ini berarti bahwa semangat & kesungguhan seorang muslim utk meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan pertanda kesempurnaan imannya.
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menjelaskan makna ayat di atas berkata, “Teladan yang baik (pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) ini, yang akan mendapatkan taufik (dari Allah Ta’ala) utk mengikutinya hanyalah orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah & (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena (kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan kebaikan & ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi seseorang utk meneladani (sunnah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“[8].
Karena agung & mulianya kedudukan sunnah inilah, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan anjuran khusus bagi orang yang selalu berusaha mengamalkan sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi sunnah yang telah ditinggalkan kebanyakan orang. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
((من أحيا سنة من سنتي فعمل بها الناس، كان له مثل أجر من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئاً))
“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dgn tak mengurangi pahala mereka sedikit pun“[9].
Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan besar bagi orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi sunnah yang telah ditinggalkan kebanyakan orang. Oleh karena itu, imam Ibnu Majah mencantumkan hadits ini dlm kitab “Sunan Ibn Majah” pada bab: (keutamaan) orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamyang telah ditinggalkan (manusia)[10].
Bahkan para ulama menjelaskan bahwa orang yang menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapatkan dua keutamaan (pahala) sekaligus, yaitu keutamaan mengamalkan sunnah itu sendiri & keutamaan menghidupkannya di tengah-tengah manusia yang telah melupakannya.
Syaikh Muhammad bih Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Sesungguhnya sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika semakin dilupakan, maka (keutamaan) mengamalkannya pun semakan kuat (besar), karena (orang yang mengamalkannya) akan mendapatkan keutamaan mengamalkan (sunnah itu sendiri) & (keutamaan) menyebarkan (menghidupkan) sunnah dikalangan manusia”[11].
Semangat Para Ulama Ahlus Sunnah dlm Meneladani Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Para ulama Ahlus sunnah adalah sebaik-baik teladan dlm semangat mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai dlm masalah yang sekecil-kecilnya, & karena inilah Allah Ta’ala memuliakan mereka.
Sampai-sampai imam Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri dlm ucapannya yang terkenal pernah berkata, “Kalau kamu mampu utk tak menggaruk kepalamu kecuali dgn (mencontoh) sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka lakukanlah!”[12].
Demikian pula ucapan imam ‘Amr bin Qais al-Mula’i[13], “Kalau sampai kepadamu suatu kebaikan (dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka amalkanlah, meskipun hanya sekali, supaya kamu termasuk orang-orang yang mengerjakannya”[14].
Bahkan semangat dlm mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam inilah yang menjadi ukuran kebaikan seorang muslim menurut para ulama tersebut.
Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari berkata, “Orang muslim yang paling utama adalah orang yang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah ditinggalkan (manusia), maka bersabarlah wahai para pencinta sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena sesungguhnya kalian adalah orang yang paling sedikit jumlahnya (di kalangan manusia)”[15].
Oleh karena itulah, para ulama Ahlus sunnah sangat mengagungkan & memuji orang yang semangat menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn pujian yang setinggi-tingginya.
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata[16], “Muhammad bin Aslam ath-Thuusi[17] adalah seorang imam yang disepakati keimamannya (oleh para ulama Ahlus sunnah) & sangat tinggi kedudukannya. Bersamaan dgn itu, beliau adalah orang yang paling semangat mengikuti sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di zamannya. Sampai-sampai beliau mengatakan: “Tidaklah sampai kepadaku satu sunnah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku selalu mengamalkannya…”. Maka (ketika) seorang ulama Ahlus sunnah di jamannya ditanya tentang (arti) as-sawaadul a’zham (kelompok terbesar/Ahlus sunnah), yang disebutkan dlm hadits “Kalau orang-orang berselisih (pendapat dlm agama) maka hendaknya kalian mengikuti as-sawaadul a’zham“[18], ulama tersebut menjawab: “Muhammad bin Aslam ath-Thuusi dialah as-sawaadul a’zham“.
Kemudian Ibnul Qayyim berkata, “Demi Allah, benar (ucapan ulama tersebut), karena sesungguhnya jika pada suatu zaman, ada seorang yang memahami sunnah (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), (mengamalkannya) & menyeru (manusia) utk mengikutinya, maka dialah hujjah (argumentasi penegak kebenaran di jamannya), dialah ijma’ (kesepakatan/konsensus para ulama Ahlus sunnah), dialah as-sawaadul a’zham (kelompok terbesar/Ahlus sunnah), & dialah sabilul mu’minin (jalannya orang-orang yang beriman), yang barangsiapa memisahkan diri darinya & mengikuti selainnya, maka Allah akan membiarkan dia (dalam kesesatan) yang diinginkannya & Allah akan masukkan dia ke dlm neraka Jahannam, & itu adalah seburuk-buruk tempat kembali”[19].
Senada dgn ucapan di atas, imam Ahmad bin Hambal berkata, “Tidaklah aku menulis sebuah hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali aku telah mengamalkannya, sehingga ketika sampai kepadaku hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbekam & memberikan (upah) satu dinar kepada Abu Thaibah (tukang bekam), maka ketika aku berbekam aku memberikan (upah) satu dirham kepada tukang bekam”[20].
Bahkan para ulama Ahlus sunnah, jika mereka mendapati satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum mereka ketahui & amalkan sebelumnya, maka mereka menganggap itu adalah sebuah kerugian & musibah besar yang menimpa mereka. Sebagaimana yang terjadi pada imam Ahmad bin Hambal, ketika dia mendengar satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum sampai kepada beliau sebelumnya, beliau mengatakan: “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun (zikir yang diucapkan ketika ditimpa musibah), satu sunnah dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum sampai kepadaku (sebelum ini)?”[21].
Ini semua karena mereka memahami dgn yakin bahwa orang yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling banyak mengamalkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm dirinya. Hal ini disebabkan karena pada masing-masing petunjuk yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada satu bagian dari kebaikan, yang ini berarti semakin banyak seseorang menghimpun kebaikan tersebut dlm dirinya, maka semakin sempurna pula keimanannya[22]. Inilah yang diisyaratkan dlm firman Allah Ta’ala,
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ}
“Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah & seruan Rasul-Nya yang mengajak kamu kepada suatu yang memberi (kemaslahatan/kebaikan)[23] hidup bagimu” (QS al-Anfaal:24).
Peringatan & Nasehat Penting
Kalau kita membandingkan sikap para ulama Ahlus sunnah di atas dgn sikap sebagian dari orang-orang muslim zaman sekarang, maka kita akan mendapati perbedaan yang sangat jauh sekali. Karena orang-orang muslim zaman sekarang hanya mau mengikuti sunnah & petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm hal-hal yang wajib saja. Adapun anjuran & adab-adab beliau lainnya, maka mereka sama sekali tak semangat meneladaninya.
Bahkan sebagian dari mereka, jika dihimbau utk melaksanakan satu sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukannya berusaha segera mengamalkannya, tapi malah berkelit dgn melontarkan pertanyaan yang menunjukkan keengganannya: “Lihat dulu, apakan sunnah tersebut hukumnya wajib atau hanya sekedar anjuran? Kalau hanya anjuran kan tak berdosa jika ditinggalkan…”.
Sikap seperti ini jelas sangat bertentangan dgn sikap para ulama Ahlus sunnah dlm masalah ini. Karena dlm semangat mengejar keutamaan & meraih pahala dari Allah Ta’ala, para ulama Ahlus sunnah tak membeda-bedakan antara amalan yang wajib dgn amalan yang bersifat anjuran, & mereka berusaha utk mengerjakankan semua amalan yang dicintai oleh Allah Ta’ala.
Imam al-Qurthubi berkata, “Barangsiapa yang terus-menerus meninggalkan sunnah-sunnah (rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka ini (menunjukkan) kekurangan (kelemahan/celaan) dlm agamnya. Apalagi kalau dia meninggalkan sunnah-sunnah tersebut karena meremehkan & tak menyukainya, maka ini kefasikan (rusaknya iman), karena adanya ancaman dlm sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang membenci sunnah/petunjukku maka dia bukan termasuk golonganku“[24]. Dulunya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam & orang-orang yang mengikuti (petunjuk) mereka selalu komitmen melaksanakan sunnah-sunnah (yang bersifat anjuran) seperti komitmen mereka dlm melaksanakan amalan-amalan yang wajib (hukumnya), mereka tak membeda-bedakan kedua (jenis) amalan tersebut dlm (semangat) meraih pahala (dan keutamaan)nya. Dan (tujuan) para ulama ahli fikih dlm membedakan (kedua jenis amalan tersebut dlm masalah hukum) karena (berhubungan dengan) konsekwensi yang harus dilakukan, berupa wajibnya mengulangi perbuatan tersebut atau tidak, & wajib atau tidaknya memberikan hukuman (karena) meninggalkannya”[25].
Oleh karena itu, syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin sangat mengingkari orang yang melakukan perbuatan ini, dlm sebuah nasehat beliau yang sangat berharga[26], bahkan beliau mengatakan bahwa orang yang melakuakan perbuatan tersebut dikhawatirkan terancam masuk dlm golongan orang-orang yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dlm firman-Nya,
{وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ}
“Dan Kami akan memalingkan hati & penglihatan mereka sebagaimana awalnya dulu mereka tak beriman, & Kami biarkan mereka bergelimang dlm kesesatannya yang sangat” (QS al-An’aam:110).
Mirip dgn kasus di atas, syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin juga pernah ditanya tentang seorang penuntut ilmu, yang kalau dia ditanya oleh orang awam tentang masalah-masalah ibadah, maka dia hanya menjelaskan hal-hal yang wajib saja & tak menjelaskan sunnah-sunnah yang bersifat anjuran, dgn alasan dia tak ingin memberatkan/membebani mereka. Maka syaikh al-’Utsaimin berkata, “Orang yang hanya menjelaskan hal-hal yang wajib dlm syariat Islam (tanpa menjelaskan sunnah-sunnah yang bersifat anjuran) adalah termasuk orang yang menyembunyikan ilmu[27], karena wajib bagi penuntut ilmu utk menjelaskan (kepada masyarakat) hal-hal yang wajib & hal-hal yang bersifat anjuran, setelah itu dia menjelaskan kepada mereka: ini (hukumnya) wajib & ini anjuran, barangsiapa yang melaksanakan yang wajib maka itu mencukupinya, & barangsiapa yang melaksanakan hal-hal yang (bersifat) anjuran maka akan bertambah pahala (keutamaan)nya. Adapun jika dia (sengaja) tak menjelaskan sunnah-sunnah yang (bersifat) anjuran karena (alasan) takut memberatkan orang awam (maka ini jelas tak dibenarkan), karena demi Allah, dia tak lebih penyayang dari pada Allah kemudian dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menjelaskan kepada umatnya hal-hal yang wajib & sunnah-sunnah yang bersifat anjuran. Maka sampaikanlah nasehatku kepada pemuda tersebut: hendaknya dia bertakwa kepada Allah & menjelaskan kepada masyarakat (awam)  hal-hal yang wajib & yang bersifat anjuran, sehingga kalau mereka mengamalkan hal-hal yang bersifat anjuran berdasarkan ilmu yang disampaikannya, maka dia akan mendapatkan pahala (yang besar) …”[28].
Penutup
Setelah kita memahami besarnya keutamaan menghidupkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam & semangatnya para ulama Ahlus sunnah dlm mengamalkannya, maka masihkah kita ragu utk mengambil bagian dari keutamaan & kemuliaan yang agung ini? Tidakkah kita ingin meraih keutamaan yang lebih besar lagi di akhirat nanti, yaitu dgn Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi pemimpin & imam yang akan membela kita dihadapan Allah Ta’ala ketika kita mengahadap-Nya nanti?
Renungkanlah firman Allah Ta’ala berikut,
{يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ}
“(Ingatlah) suatu hari (yang pada waktu itu) Kami memanggil tiap orang dgn pemimpinnya” (QS al-Israa:71).
Imam Ibnu Katsir berkata, “Salah seorang ulama salaf berkata: “Ayat ini (menunjukkan) kemuliaan yang sangat agung bagi orang-orang yang mencintai hadits (sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), karena imam (pemimpin) mereka (pada hari kiamat nanti) adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam“[29].
Oleh karena itu, salah seorang ulama Ahlus sunnah, Zakaria bin ‘Adi bin Shalt bin Bistam[30], ketika beliau ditanya, “Alangkah besarnya semangatmu utk (mempelajari & mengamalkan) hadits (sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), (apa sebabnya?)”. Beliau menjawab, “Apakah aku tak ingin (pada hari kiamat nanti) masuk ke dlm iring-iringan (rombongan) keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?“[31].
Semoga Allah senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua utk selalu berpegang teguh dgn sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di akhir hayat kita, amin.
Ya Allah, wafatkanlah kami di atas agama Islam & di atas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam[32]
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 9 Dzulqa’dah 1430 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id
[1] Tafsir Ibnu Katsir (1/477).
[2] Kitab “asy-Syifa bita’riifi huquuqil mushthafa” (2/24).
[3] Lihat kitab “Taujiihun nazhar ila ushuulil atsar” (1/40).
[4] HSR Muslim (no. 746).
[5] Lihat keterangan imam an-Nawawi dlm kitab “Syarh shahih Muslim” (6/26).
[6] Lihat keterangan syaikh Abdurrahman as-Sa’di dlm tafsir beliau (hal. 481).
[7] Tafsir Ibnu Katsir (3/626).
[8] Kitab “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hal. 481).
[9] HR Ibnu Majah (no. 209), pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dgn riwayat-riwayat lain yang semakna, oleh karena itu syaikh al-Albani menshahihkannya dlm kitab “Shahih sunan Ibnu Majah” (no. 173).
[10] Kitab “Sunan Ibnu Majah” (1/75).
[11] Kitab “Manaasikul hajji wal ‘umrah” (hal. 92).
[12] Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dlm kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” (1/216).
[13] Beliau adalah imam yang sangat terpercaya dlm meriwayatkan hadits Rasulullah r, dari kalangan atba’ut tabi’in (wafat setelah 140 H), lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 381).
[14] Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dlm kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” (1/219).
[15] Ibid (1/168).
[16] Kitab “Ighatsatul lahfaan min mashaayidisy syaithaan” (1/70).
[17] Beliau adalah imam besar, penghafal hadits, syaikhul Islam Abul Hasan al-Kindi al-Khuraasaani (wafat 242 H), lihat biografi beliau dlm “Siyaru a’laamin nubala’” (12/195).
[18] HR Ibnu Majah (no. 3950) & lain-lain, hadits sangat lemah, karena dlm sanadnya ada Abu Khalaf  Haazim bin ‘Ahta’ al-A’ma, dia adalah seorang perawi yang matruk (ditinggalkan riwayatnya), lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 381). Hadits ini dilemahkan oleh al-’Iraqi, al-Haitsami & al-Albani.
[19] Sebagaimana yang diisyaratkan dlm firman Allah QS an-Nisaa’:115.
[20] Dinukil oleh imam al-Khatib al-Baghdadi dlm kitab “al-Jaami’ li akhlaaqir raawi” (1/220).
[21] Dinukil oleh imam Ibnul Jauzi dlm kitab “Talbiisu Ibliis” (hal.398).
[22] Lihat keterangan Ibnul Qayyim dlm kitab “al-Fawa-id” (hal. 121- cet. Muassasatu ummil qura’).
[23] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” (4/34).
[24] HSR al-Bukhari (no. 4776) & Muslim (no. 1401).
[25] Dinukil oleh imam Ibnu Hajar dlm kitab “Fathul Baari” (3/265).
[26] Lihat nasehat tersebut dlm kitab “Washaaya wa taujiihaat li tullaabil ‘ilmi” (1/55-57).
[27] Ini adalah termasuk dosa besar, berdasarkan HR Ibnu Majah (no. 266) & dinyatakan shahih  oleh syaikh al-Albani.
[28] Liqa-aatul baabil maftuuh (1/388-389), pertanyaan no. 525.
[29] Tafsir Ibnu Katsir (3/73).
[30] Beliau adalah imam yang sangat terpercaya dlm meriwayatkan hadits Rasulullah r (wafat 212 H), lihat kitab “Taqriibut tahdziib” (hal. 166).
[31] Dinukil oleh imam Ibnul Qayyim dlm kitab “Miftaahu daaris sa’aadah” (1/74).
[32] Doa yang selalu diucapkan oleh imam Ahmad bin Hambal, dinukil oleh al-Khathib al-Baghdadi dlm kitab “Tarikh Baghdad” (9/349).